CERPEN - HUJAN DAN ANYELIR PUTIH (Karya Yogua Ziafa)

Guys, sebelum ke cerpen, aku mau ngasih info kalau cerpen ini diambil dari buku antalogiku terbitan RWTC yang judul bukunya 'Kunamai Dia Rindu'. Tapi tulisan ini enggak sama persis kayak yang di buku. Ada revisi ala-ala yang aku lakukan. Oke, gitu aja mungkin ya infonya hhe. Yang mau baca cerpennya, yuk, langsung aja. Selamat menikmati, semoga temen-temen suka^^


 
(Sumber gambar: Koleksi pribadi)


Hujan dan Anyelir Putih


Apa yang kau rasakan ketika hujan menyapa? Kurasa hujan dan anyelir putih sudah menjadi gambaran rasaku saat ini. Kau tau itu .... Tentang pria yang kucinta. Pria itu –dia harapanku.

Wedge heels hitam milikku terus bernada seiring langkah yang kuayunkan. Tak … tak … tak! Para wanita yang juga berlalu-lalang di trotoar, tak mau kalah mengalunkan heels catiknya. Tapi tetap saja, suara bus double-decker dan klakson taxi hackney mampu menutup ricuhnya langkah para gadis cantik London.

Aku sibuk mencari kartu oyster di tas. Tanganku terus merogoh tas; mataku juga tergugup-gugup melihat ke dalam tas. Hh, tidak mungkin! Aku tak menemukan kartu oyster-ku di dalam sana. Di situasi seperti ini, akan konyol jika aku meninggalkan halte dan lari sekencang mungkin untuk mendapatkan barang yang ketinggalan itu.

Tidak, tidak. Aku akan memastikan apakah kartu oyster-ku benar-benar ketinggalan. Gesit aku membalikkan tas. Aku cukup yakin kalau aku tidak seteledor itu. barangkali kartu oysterku terselip di bagian terpencil di dalam tasku.

Masalahnya aku sudah sangat yakin, semalam aku mempersiapkan semuanya. Aku jeli. Harus! Sebab belum satu bulan aku tinggal di sini, jadi semuanya harus penuh persiapan dan tidak boleh ada kesalahan. Dan …. Aku masih yakin aku tak melakukan kesalahan apapun. Aku tak sambil telponan saat sedang mempersiapkan semuanya. Maksudku, ada teman yang pernah melakukan kesalahan karena ia mengerjakan sesuatu sambil teleponan dengan pacarnya. Aku tak punya pacar. Dalam artian, semalam aku tak melakukan hal lalai seperti temanku itu. Bukan. Aku tidak berstigma kalau orang yang berpacaran itu lalai. Tidak sama sekali. Hanya saja aku tak mengerti mengapa temanku yang teleponan itu sampai tidak fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan.

Baiklah. Berhubung jarak dari halte ke tempat tinggalku  hanya tiga ratus meter, dengan itu aku putuskan untuk mengambil kartu. Orang-orang di samping kanan-kiriku tak menyadari ada orang konyol yang kebingungan karena kartunya ketinggalan. Tiga minggu tinggal di London memperkuat pemahamanku bahwa orang London tidak sama dengan orang Indonesia. Jika posisiku tadi yang sibuk mencari kartu adalah di Indonesia, aku yakin, minimal ada satu orang yang bertanya kepadaku tentang apa yang terjadi.

Aku berbalik. Saat aku mau mengambil langkah, tiba-tiba suara berat menyapaku. Seorang pria di atas sepedanya terlihat gugup menatapku.

“Um, sorry.” Ia melanjutkan, “… are you Bunga?”

“Sorry?” Sedikit bingung karena aku tak mengenal pria dengan mata cokelat itu.

Tak lama ketika aku kebingungan –aku tak tau maksud dan tujuan pria itu menghampiriku–  bus merah yang biasanya mengantarkanku ke tempat tujuan, parkir tepat di depanku. Seketika terjadi perdebatan di otak; seperti ada sesuatu di hatiku yang menyuruhku untuk cepat memilih. Antara aku harus pergi mengambil kartu oyster yang tertinggal, atau aku menghargai niat pria asing yang ingin berbicara denganku.

“Sori aku gak bermaksud menghalangimu, tapi ... apa kartu itu milikmu?” tanyanya menggunakan inggris britis yang fasih sampai-sampai aku tak memahami ucapannya kalau saja ia tidak mengarahkan jari telunjuk. Aku mengikuti kemana jari telunjuk itu mengarah,  dan beruntung sekali aku bisa bernapas lega sebab benar, itu kartuku! 

Mungkin kartu itu jatuh saat aku sedang membolak-balikkan tas; tanpa aku sadar.

Spontan aku mengucapkan terimakasih. Ia juga lancar mengatakan bahwa katanya 'kita satu universitas'. Sebetulnya, ya … aku cukup terkejut. Entah. Aku tidak tau ekspresi yang tepat untuk menjelaskan suasana hatiku. Maksudnya aku tak menyangka orang baik yang menolongku ternyata satu universitas denganku. Sekilas, dan mungkin aku tak menyadarinya, aku sempat bertanya dalam hati: Mengapa dia tau aku? Apa kita pernah satu kelas? Di mata kuliah apa aku satu kelas dengan pria ini? Dan … siapa namanya tadi?

Aku tersadarkan. Melihat ke depan sana; sopir bus tengah melihat ke arahku. Seolah dari tatapannya ia berkata mau naik tidak? Nampaknya ia sudah hafal wajahku karena aku yang  langganan memakai kursi busnya.

Baiklah, aku tak punya banyak waktu. Aku langsung menggerakkan kaki; melompat ke dalam bus; lalu melakukan tapping kartu.

***

“Hai!”

Aku menoleh. Melihat ke arah pemilik suara berat yang meyapaku akrab.

“Heii, kenapa kamu lama banget sih!” Aku tak mengerti padahal dia tidak selama itu diskusi dengan teman-teman di organisasinya, tapi, entahlah itu terasa lama bagiku. Anehnya, lagi dan lagi, setiap kali melihat mata cokelatnya, hatiku kembali tenang. Segala macam makian untuknya tadi, seketika hilang ketika menatap mata itu.

Ia tersenyum. Masih sama dengan dua bulan lalu ketika aku meloncat ke dalam bus, dan di balik kaca bus itu, lengkungan manis itu menyapaku. Tak memudar dan masih sama.

“Jadi kan ke bioskop?” Suaranya juga masih sama. Suara berat dengan intonasi lembut yang khas.

“Tentu saja! Tapi karena jadwal tayangnya masih tiga jam lagi, kita ke kafe dulu yuk!”  

Namanya Aland. Dia pria yang menologku kala aku melakukan hal konyol di halte tepat dua bulan lalu. Dari kejadian itu kami jadi dekat. Dia mengajarkanku apa-apa yang sebelumnya tak aku ketahui tentang London. Bukan hanya London, dia juga mengajarkanku tentang rasa yang sebelumnya tak pernah aku bagi ke pria manapun.  

“Ini tak lucu! Mengapa hujan turun di saat seperti ini?!” Aku menekuk wajah. Kami terjebak di ruang kafe yang kebetulan kali ini pengunjungnya hanya kami berdua. Ya, meskipun ini kafe langganan, tapi aku tetap tak suka berada di sini, sebab jika terus di sini kami akan ketinggalan film yang sebentar lagi akan di putar.  

Biasanya di kursi ini aku dan Aland akan melakukan hal menyenangkan. Dan aku kesal, mengapa kali ini hal yang tak diinginkan malah datang tanpa diundang?  

“Oh shitt! Aku lagi, kenapa gak bawa payung. London kan sering hujan!” Aku merutuki diri. Merasa bodoh.

Mata pria itu berhenti menatap derasnya hujan. Entah terganggu olehku; atau entah karena apa. Yang jelas ia menatapku lekat. Seperti ada yang ingin ia katakan.

Aland tersenyum. Sesingkat itu cara ia membuat aku mengerti.

Sedetik kemudian, ia mulai mengeluarkan kalimat dari mulutnya. Membuatku meng-iyakan apa yang diucapkan pria itu. Begitu romantisnya hujan ….

***

Setelah kejadian di kafe, aku tak pernah melihat Aland lagi. Aku tak menyangka bahwa kejadian hangat di kafe adalah akhir pertemuan kami. 

Aland sudah pergi jauh. Entah cerah, entah mendung di tempatnya sekarang. Entah kemana perginya ia. Tapi katanya, yang berkunjung ke tempat itu dipastikan tak akan pernah kembali lagi.

Kopi panas di mejaku tak kalah menarik dengan hujan deras di balik jendela.

Tentang pria itu. Pria itu hadir tanpa aku duga. Pria itu mengisi hari-hariku. Kadang ia membuatku kesepian; kadang dengan ajaibnya hariku berganti menjadi penuh senyuman. Pria itu mengajarkanku tentang rasa dan asa. Senyumannya … sebuah mahakarya terbaik yang terabadikan dalam ingatan. Senyuman yang begitu manis. Tetapi sayang, kali ini ia tak mau berbagi senyum lagi  dengaku.   

Aku terus menatap hujan yang deras itu.

Aland, nama yang sangat bagus. Bahkan nama itu telah menggambarkan pribadinya: Cahaya matahari yang hangat. Dan aku baru sadar, London sering hujan. Akhir-akhir ini pun awan mendung sering menyapa. Awan hitam itu begitu egois; bagaimana bisa ia melenyapkan matahari yang sedang bersinar? 

Di sini aku, terjebak di ruangan ini lagi. Kenapa hujan deras harus turun?

Setiap aku kesal dengan hujan, suara pria itu akan menyapaku. Tepat dua tahun lalu ketika kami terjebak hujan yang membuat kami terpaksa menunggu lama di kafe; pria itu bercerita tentang begitu romantisya hujan. Katanya, hujan itu sebuah harapan. Tanda seseorang harus mulai mengucapkan harapan-harapannya yang terbengkalai.

Saat itu aku meng-iyakan saja ucapannya tanpa harus repot-repot berhenti menekuk wajah. Aku masih cemberut. Aku kesal kepada hujan yang tak bisa kompromi. Tapi Aland malah cengengesan. Dia bilang padaku, “Pantas saja kamu merasa sedih dan kesal ketika hujan menyapa. Tanpa sadar, kamu sedang mengharapkan kesedihan dari hujan.” Dan di akhrir kalimatnya, dia bilang, “Berharaplah ketika hujan menyapa. Kau tau, berapa banyak malaikat yang akan mencatat harapanmu itu?”

Waktu itu aku menggeleng. Entahlah, aku tak tau pasti berapa banyak malaikat yang mencatat harapanku untuk mereka sunguhkan kepada Tuhan. Mungkin sebanyak tetesan hujan? Mungkin saja.

Baiklah Aland, aku akan mengatakan harapaku sekarang. Semoga saja malaikat benar-benar mencatat harapanku itu ya.

Tapi sebelumnya, apa kabar Aland? Kau baik-baik saja di sana kan?

Apa yang kau rasakan ketika hujan menyapa? Kurasa hujan dan anyelir putih sudah menjadi gambaran rasaku saat ini. Kau tau itu .... Tentang pria yang kucinta. Pria itu –dia harapanku.

Comments

Popular posts from this blog

CERPEN - Lagu Klasik (Karya Yogua Ziafa)