CERPEN - GADIS KECIL DENGAN TANYA (Karya Yogua Ziafa)
(Sumber gambar: Koleksi pribadi)
Saat menginjak dewasa, banyak pertanyaan yang muncul di
kepala. Tapi tak jarang pertanyaan itu dibiarkan begitu saja. Mengapa? Sebab,
tak sedikit orang dewasa yang takut dianggap lemah, konyol, serta dianggap tak
berdaya jika bertanya. Lebih baik mereka menyimpannya. Tak sedikit orang
dewasa yang menganggap bahwa dunia ini sudah tak lagi ramah.
Aku pun merupakan satu dari banyaknya orang dewasa yang
merasa kalau dunia ini sudah tak lagi ramah. Saat aku kecil, aku tak perlu
berpikir panjang dulu untuk bertanya: Mengapa aku jadi manusia? Kalau
aku jadi sendok, emm ... atau jadi penghapus, bisa tidak ya?
Lalu setelah pertanyaan itu, ada jawaban lembut yang
menyambutku. Lho, kenapa sayang, kok kamu pengen jadi sendok? Manusia
itu spesial tau. Sendok tidak punya hidung, jadi tidak bisa mencium wangi cake
buatan Bunda. Manusia punya hidung, kita bisa menghirup udara segar manapun yang
kita mau.
Lalu setelah itu ada tangan lembut yang mengusap kepalaku.
Ada senyuman lebar yang ditunjukkan khusus untukku. Aku menatap mata indahnya
yang berbinar kala menatapku. Aku tersenyum karena senang atas jawabannya.
***
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Itu sekitar jam tiga
lewat tiga puluh dini hari; tepat sebelum adzan subuh dikumandangkan. Aku
melakukan aktivitas yang psikolog-ku sarankan.
Keran mulai diputar. Tak lama air membasahi rambut sebahu milikku. It's
work. Sesuatu yang membuat ku merespon bahwa ada hal yang terjadi. Air pagi
yang mengalir dari keran menstimulasi, sampai aku merasakan bibirku bergetar
secara impulsif. Rahangku mengeras. Terdapat bentolan-bentolan kecil pada
kulit; jika ditinjau lebih dekat itu hasil dari bulu kuduk yang berdiri.
Orang sepertiku setidaknya harus melakukan hal ini setiap
paginya agar terpicu untuk melakukan hal lain. Agar tidak mengurung di
kamar seolah tidak punya kehidupan. Pagiku harus dipenuhi dengan aktivitas. Jam
setengah empat mandi, jam lima aku sudah mulai memakai sepatu, lalu
berkeringat. Setidaknya jam lima aku harus ke luar. Biarlah sekedar jalan-jalan
santai keliling komplek; menghirup udara pagi yang sejuk.
Kemarin aku membaca sebuah buku, di buku disebutkan bahwa
13% dari total populasi dunia pernah menderita depresi, dan aku adalah satu
dari 13% itu. Ya ... untungnya depresi-ku tidak kronis. Aku tidak perlu ke
psikiater untuk dibantu oleh obat. Aku hanya perlu memutus rantai depresiku
dengan buku dan pulpen, serta rajin menulis aktivitas harian. Jika terlalu
capek dengan kegiatan yang menjadi kewajibanku, sorenya aku akan membeli hot-latte dan
menikmatinya di tempat favoritku. Yaitu lapangan dengan hamparan hijau luas.
Dua sudut lapang tersebut dikelilingi oleh sawah yang luasnya sampai
berhektar-hektar. Pokoknya sejauh mata memandang, sampai ujung sana aku masih
melihat sesawahan. Suara jangkrik nyaring terdengar; tonggeret pun tidak mau
kalah berdendang. Hal spesial yang akan aku lakukan adalah duduk di sudut
lapang dan menikmati matahari sore yang melambai-lambai riang. Indah sekali.
Tenang; sambil menghirup aroma latte dari cup berwarna cokelat
dengan tutupnya yang berwarna hitam. Bibirku biasanya melengkung ke atas sebab
lelahku yang berganti menjadi tenang; nyaman; enak; damai.
Seperti pada lusa kemarin, tepatnya di hari ulang tahunku,
aku pergi ke lapang karena aku merasa terlalu lelah. Aku sudah banyak sekali
melakukan kegiatan yang melelahkan di kantor tempatku bekerja. Aku cukup banyak
mendapat kejutan di hari ulang tahunku. Sebetulnya bukan kegiatannya itu yang
membuat aku lelah. Terkadang aku bermuka datar, tatapanku dingin, dan melamun
tanpa aku sadari, lalu temanku menanyakan keadannku. Itu yang membuatku kepikiran,
terus dan terus memikirkan masalahku. Aku seolah-olah punya masalah yang sangat
besar, tapi jika ditanya apa masalahku, aku akan bingung menjawabnya. Atau
mungkin aku bisa menjawab apa masalahku, tapi bagi kebanyakan orang masalahku
itu adalah sesuatu yang sepele, sangat sepele bahkan. Tapi bagiku masalahku
itu sangat besar dan sangat serius. Aku rasa ada yang salah dengan diriku. Maka
dari itu, baru-baru ini aku mendaftar ke psikolog.
Baiklah, aku akan mulai menceritakan kejadian yang tak
terlupakan pada lusa sore hari.
Untuk menginjak hamparan hehijauan lapang, aku harus
melewati jalan beraspal yang lebarnya kurang-lebih satu meter. Tidak jauh.
Maksudnya lapang tersebut bukan sesuatu yang terpencil dan susah dijangkau. Aku
hanya perlu berjalan sebentar saja hingga akhirnya aku sampai di sana. Setiap
kali berjalan di jejalanan aspal itu aku selalu merasa kalau aku sedang
berteleportasi dari hingar-bingar perkotaan menuju lapangan hijau luas yang mana
kondisinya sangat berbanding kebalik dengan kondisi perkotaan yang sibuk. Padahal itu
masih satu tempat, tapi kondisinya sangat jauh berbeda. Itu alasan mengapa
rasa-rasanya aku seperti berteleportasi dari kota yang baik-baik aku kenal sebagai kota yang sibuk.
Kebetulan setiap kali aku pergi ke lapang, aku akan membeli
latte terlebih dahulu di salah satu ruko di muka lapang. Ruko-ruko yang
berjejer itu menghadap ke arah jalan, sebaliknya, ruko-ruko itu membelakangi
lapang; seperti tak mau mengganggu kedamaian yang ada.
Ya, sore itu aku memesan latte, mengantri seperti biasa.
Tapi yang tidak biasa adalah seorang pria berkumis yang tak asing bagiku –terus
saja mengoceh. Tatapan di balik kaca mata minusnya yang biasanya ramah, kali
itu terlihat seperti mata milik anjing yang marah dikarenakan tulang kuburannya dicuri anjing lain. Nampak garang dan mengerikan. Belum lagi ketika
pria berkumis itu membentak sosok jangkung yang tengah sibuk meracik latte,
suasana langsung hening. Suara klakson motor, suara mesin bus yang menderu, suara
decitan rem, begitupun suara engsel-engsel dari angkot reyot mendadak jadi tidak
terdengar. Bentakan serta makian dari pria berkumis kepada bawahannyalah yang
menjadi highlight sore itu.
“Kamu nanya, boleh tidak pulang kampung, kamu tidak lihat
apa setiap sore pelanggan kita banyak begini!
“Si Reno belom balik, di situasi kayak begini kamu nanya
boleh tidak pulang kampung?!”
Nyaring terdengar laksana katel terpelanting yang
membubarkan ayam-ayam tetangga. Ratusan telinga mendengar; mengundang tanya, di
sebelah ada apa ya?
Aku tau, pria jangkung itu pasti ingin sekali agar pria
berkumis berhenti mengoceh, tapi ia
tidak tau bagaimana caranya. Terlihat dari wajahnya yang merah, pria itu merasa
seperti sedang dilucuti. Pakaiannya seperti dipaksa tanggal; terus menerus,
satu persatu, dan secara ganas. Yang aku lihat, air wajahnya menunjukkan bahwa
saat itu juga ia ingin menghilang. Entah kemana lebih tepatnya, namun yang
jelas ia ingin terbang dan pergi jauh-jauh dari tempat tersebut.
Kejadian lusa sore mengingatkanku kepada kejadian-kejadian
serupa: tentang tanya.
Saat SMP aku pernah takut bertanya, sebab kala teman
sebangkuku bertanya, ia malah ditertawakan habis-habisan di jam pelajaran
Matematika. Ia dibully, katanya masa begitu saja tidak bisa?
Lalu pernah juga, saat kumpul-kumpul keluarga di rumah uwak
di Bandung, om bertanya, “Capek. Apa berhenti saja bisnis start-upnya?” Lalu
dijawab dengan angan-angan realita: Biaya makan, biaya sekolah anak, biaya
cicilan, serta hal lainnya yang menyangkut apa tanggapan tetangga jika berhenti
padahal di awal sudah pinjam modal sana-sini.
Lalu aku juga teringat akan curhatan teman, katanya hubungan
dia dengan teman ceweknya renggang gara-gara dia bertanya: Mau gak jadi pacar
aku?
Ya, bagiku tanya memang begitu. Tanya membuat kita seperti orang yang konyol, tak berdaya, seperti orang lemah yang tidak memiliki harapan apa-apa. Bukankan dunia tak ramah terhadap orang seperti itu?
Jika dipikir lagi, bagaimana jadinya kalau pertanyaan yang aku lontarkan ke bunda saat kecil, itu aku lontarkan saat ini? Bisa saja aku disuruh pergi ke perpustakaan untuk membaca buku biologi. Atau, kemungkinan besar yang logis terjadi, aku dianggap sebagai manusia yang tidak bersyukur.
Padahal, terkadang tanya bukan tanda seseorang lemah tanpa harapan, itu hanya tentang seseorang yang mengharapkan jawaban bahwa semuanya baik-baik saja.
Lalu, di dewasa ini, adakah tanya yang memberi ujung bahagia? Dan ... jika boleh aku bertanya, di saat aku sudah berusaha tetapi tak secercah pun tampak, bolehkah aku menyerah saja?
Luar biasa berbobot alur ceritanya...
ReplyDeleteKesannya yogua Ziafa yg komen, Yogua Ziafa juga yg balas. Tapi itu umi yg pakai akun google saya hhe.
DeleteMakasih banyak umi komentarnya, terimakasih. Abis ini bikin email yuk, hhe
Oh iya ya...lupa umi tth cantik, maaf tth yah...
ReplyDeleteMasyaAllah, teh ziyan😍
ReplyDeleteYu semangat yuu, jadi diri sendiri.. Kita punya kualitas diri masing²..
Baca nya ga bosen, majas nya endolitaaa🤭😍
Aww tencu neng geuliss ;)
Delete