CERPEN - SI PAK TUA ITU (Karya Yogua Ziafa)
(Sumber gambar: Koleksi pribadi)
Si Pak Tua itu
Selama aku di sini setidaknya aku ingin bertanya, bagaimana
rasanya menjadi manusia? Hal berat apa yang membuat manusia sampai-sampai susah
melangkah? Maaf, aku hanya bisa bertanya. Sebab aku hanyalah ilalang.
Ilalang yang gemar mengamati manusia lebih tepatnya.
Aku tinggal berdampingan dengan mama-papa-adikku, begitu pula
teman-temanku ada di sisi kananku; kiriku; ada juga yang di seberangku. Bahkan aku
punya kenalan di kota sebelah. Kenalanku itu bernama Gita. Gita sering menitip
salam kepada lebah ataupun kupu-kupu untuk menyapaku. Kata Elly si kupu-kupu,
paras Gita sangat cantik. Badannya langsing, daun hijaunya lebar, serta yang menjadi ciri khas cantiknya
Gita adalah bunga kuning besarnya yang memikat. Meski Gita dan aku tahu bahwa
kami beda ras, kami tetap berteman. Bahkan Gita masih bersikap baik dan sering
menyelipkan pujian saat menyapaku. Katanya parasku cantik. Aku ilalang dengan
bunga kapas cantik yang dihiasi bercak-bercak cokelat. Aku balas saja pujiannya
dengan sedikit canda, “Memang aku cantik. Banyak dari mereka yang rela pergi ke
Taman Kota hanya untuk tersenyum kepadaku dan berfoto denganku!”
Ohya, tentang para pengunjung yang gemar padaku, aku jadi
teringat kepada satu pengunjung. Sekeras apapun aku berpikir, aku masih tidak
mengerti kepada pengunjung yang satu ini. Dia, si Pak Tua itu.
Pertama, yang aku tahu hanya dia yang tidak pernah
memandangku. Dia hanya peduli dengan danau di dekatku. Sambil duduk di kursi
kayu langganannya, dia hanya memandang sayu ke arah danau. Sesekali melirik angsa putih yang sedang berenang. Terkadang juga ia melirik ke arah
teratai. Dan biasanya jika sudah cukup lama duduk di kursi kayunya, ia akan
menatap ke atas dan memandang lamat-lamat awan yang sedang bergerak maju.
Kedua, aku bukan ilalang baru di Taman Kota, jadi, aku tahu
persis apa yang membuat Pak Tua datang ke sini. Meski aku tak mendengar
suaranya karena posisinya yang jauh beberapa langkah di sana, tapi aku bisa tahu
apa yang dia ucapkan dari gerak-gerik bibirnya. Lihat, kali ini saja dia sedang
menggerakkan bibir dengan wajah malas tanpa ekspresi. Aku tahu, barusan dia
mengeluh dengan nada pelan, “Sudah tua begini tidak ada yang bisa diwujudkan.
Semuanya sudah terlambat. Diri ini tidak punya kesempatan lagi.”
Basi!
Biar aku pertegas lagi kalau aku bukan ilalang baru di Taman
Kota ini. Aku sudah ada sejak Pak Tua belum memakai kacamata. Di wajah Pak Tua belum ada keriput waktu itu. Tubuh Pak Tua masih tegak; tidak bongkok
seperti sekarang. Pertama kali aku melihatnya, itu sejak … aku masih ingat
kapas-kapasku lembab karena semalam hujan turun membasahi Taman Kota –pagi
itu aku melihatnya untuk kali pertama. Wajahnya kusut seperti bulu angsa yang
terkena badai. Rambutnya terlihat lepek tak ber-energi. Suasana hatinya sangat kontras dengan suasana taman yang damai, asri, serta sejuk karena hujan semalam. Dia benar-benar
berantakkan pagi itu. Kali pertama dia mengeluh pun aku mengingatnya,
“Seharusnya aku tidak menyerah begitu saja kemarin. Tapi kalau sekarang mulai lagi, sudah terlambat ….”
Aku penasaran apa yang membuatnya sampai sekacau itu. Di
kali kedua aku melihatnya, tanyaku masih belum terjawab. Aku tidak mendapatkan
informasi apapun dari bibirnya, sebab dia hanya menghela napas, lagi, dan
lagi-lagi menghela napas. Begitupun kali ketiga. Sampai di suatu hari ia datang
dengan temannya, dan di situ akhirnya aku bisa tahu kalau Pak Tua adalah
seseorang yang menyerah dengan bisnis yang dibangunnya.
“Kamu tahu kan saya orang yang tidak mudah menyerah? Saya
terus berlari meskipun di belakang banyak yang ingin menjatuhkan saya. Saya
orang yang teliti dan pintar dalam menjalani usaha. Tapi yang kemarin, itu saya
payah banget. Seharusnya saya ambil permintaan perusahaan untuk memproduksi
Kripik Enak meskipun jumlah permintaannya di atas kapasitas saya!!”
“Kamu belum selesai. Usia kamu masih muda; masih banyak
yang bisa kamu perbuat; masih banyak waktu. Ditambah istri dan anak kamu selalu
support. Dan aku siap bantu kamu!”
“Enggak … engga. Yang kemarin itu puncak karir yang saya
sia-siakan. Jelas saya sia-siakan! Saya tidak punya kesempatan lagi. Semuanya
sudah terlambat!”
Aku adalah ilalang yang mengikuti intruksi angin. Ikut ke
kanan jika angin ke kanan; ikut ke kiri jika angin ke kiri. Aku menari saat
angin sepoi-sepoi menyapaku. Aku tahu irama angin. Bahkan aku tahu saat angin sedang
tidak bersahabat. Aku namakan angin itu sebagai Angin Keputusasaan. Ia adalah
angin yang membuatku putus asa. Membuat tubuhku bengkok; lalu patah. Tapi di
sisi itu aku ingin berterimakasih kepadanya karena setelah patah aku akan
berganti menjadi lebih segar dan muda. Tubuhku yang dulu akan menjadi pupuk
untuk tubuhku yang baru. Dan itu yang tak aku mengerti: Aku menganggap
angin keputusasaan sebagai pertanda bahwa aku akan menemukan hal baru,
sedangkan apa arti angin keputusasaan bagi Pak Tua? Apa itu seperti monster
baginya? Mulanya ia berlari dengan penuh semangat, tapi entah karena lelah atau
bagaimana, Pak Tua berhenti berlari. Seolah ada akar di kakinya yang
menyuruhnya diam. Seolah Pak Tua sedang memberi sandi pada monster, “Makan saja
aku!”
Padahal banyak angin kehidupan yang ingin melihat Pak Tua
menari. Temannya yang menawarkan bantuan, seharusnya Pak Tua artikan itu
sebagai angin kehidupan. Pak Tua malah diam. Bahkan di saat monster tidak
ingin memakannya, Pak Tua malah berdiri di dekat monster seolah memberi sandi,
“Makan saja aku!”
Matahari terbit dan tenggelam. Malam dan siang silih berganti. Hari ke hari aku melihat banyak perubahan yang terjadi padaku
maupun sekelilingku. Termasuk perubahan yang kulihat pada teman yang dulu pernah
duduk bersama Pak Tua. Ia tersenyum dengan sangat lebar. Berlutut di hadapan
wanita cantik sambil menyodorkan kotak kecil yang berisi cincin dengan batu
berkilauan. Batu itu seolah sedang mengedipkan mata kepadaku, “Aku adalah
barang mahal yang hanya bisa didapatkan oleh orang kaya seperti pria ini.”
Betul, teman Pak Tua terlihat jauh lebih segar; pakaiannya jauh lebih bagus.
Setiap kali aku melihatnya, wajah itu selalu merona dan tak pernah murung.
Sedangkan, si Pak Tua masih saja sama. Wajahnya pucat
seperti tak punya kehidupan; kondisinya masih saja berantakkan seperti bulu
angsa yang terkena badai. Gerakan bibirnya masih saja sama, “Jika dulu saya mendengarkan teman saya, itu akan menjadi kesempatan terakhir
yang menguntungkan. Sekarang saya tidak punya kesempatan lagi. Semuanya sudah
terlambat!”
Dan terus saja begitu.
“Jika saya waktu itu memulai lagi, pasti di pernikahan putri
saya besok, saya akan memberikan kebahagiaan. Sekarang saya tidak punya
kesempatan lagi. Semuanya sudah terlambat!”
Terus, dan terus saja seperti itu. Aku melihat dirinya
seperti tengah berjalan di sebuah lingkaran yang tak memiliki garis akhir;
bahkan mungkin si Pak Tua lupa di garis mana pertama kali ia berjalan. Hanya terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Ia berjalan di atas pepakuan, jatuh ke lumpur yang sama, tergores di
bebatuan yang sama. Ia seperti orang bodoh yang tidak tahu pintu keluar.
Bahkan sampai saat ini. Dimana wajahnya sudah penuh dengan
keriput, uban di kepalanya sudah tidak terhitung, bibirnya sudah terlalu hitam untuk ditempeli asap
rokok, ia masih saja tak berubah. Pak Tua masih sibuk dengan angin
keputusasaan.
Ia menghela napas. Di kursi kayu itu, lagi, ia menggerakkan
bibir dengan wajah malas tanpa ekspresi. Ia mengeluh dengan nada pelan, “Sudah
tua begini tidak ada yang bisa diwujudkan. Semuanya sudah terlambat. Diri ini
tidak punya kesempatan lagi.”
Setelah mengucapkan itu Pak Tua berdiri. Ia berjalan
melewatiku; langkah kakinya begitu lemah. Ia meninggalkan taman masih dengan
bibirnya yang melengkung layu ke bawah. Perasaan sedih itu menular. Ingin
sekali aku menyapanya dan membuatnya tersenyum. Tapi ia sama sekali tidak tertarik melihat ke arahku. Mungkin besok ia akan melihat ke sini dan tersenyum kepadaku seperti yang pengunjung lain lakukan? Ya … mungkin besok.
Tapi keesokan harinya aku tak melihat Pak Tua. Pagi
berikutnya pun masih sama. Pagi, siang, sore aku menunggu Pak Tua; tapi tetap tidak ada. Hingga sudah berbulan-bulan lamanya, kursi kayu itu terasa kosong
tanpa kehadirannya.
Aku hanya ingin berkenalan dengan Pak Tua. Mungkin lewat
kupu-kupu aku akan mulai menyapanya? Oh, dan aku akan memulainya dengan bertanya: Hai, apakah
kau baik-baik saja? Dan, kali ini ... angin apa yang sedang kau dengar?
Comments
Post a Comment