CERPEN - TERLALU LELAH (Karya Yogua Ziafa)

               (Sumber gambar: Koleksi pribadi)


 

Terlalu Lelah

“Rafael, kamu janji bakal jadi cowok yang aku banggain kan?”

Ya, itu aku: R-A-F-A-E-L. Bagi siapa saja yang mendengar nama itu secara otomatis yang terbayang adalah sosok pria kece dengan tatapan mata sadis yang bikin semua wanita kelepek-kelepek. Sosok pria dengan tubuh atletis mirip artis jebolan permodelan. Namun, pada realitanya aku malu sebab rupaku tak setampan namaku. Aku hanyalah pria dua puluh empat tahun yang selalu siap dengan kemeja putih. Si pemilik tampang kuyu dengan bahu layu lengkap dengan leher yang condong ke depan efek dari duduk depan laptop non-stop. Aku harus siap ketika ada perusahaan yang memanggilku untuk interview. Meski dalam kenyataannya aku sedang rapuh. Hal lain yang ada pada diriku adalah aku yang terlalu lelah untuk terus gagal.

Sedangkan wanita dengan rambut sebahu yang duduk di depanku; dia pacarku. Namanya Lisa.

“Aku gak nuntut kamu apa-apa, Rafael. Cuman … plis jadi orang yang disiplin. Pulang dari kafe, abis dari sini nih, kamu harus beresin desk kamu; tata buku-buku kamu. Terus … semisal kamu lagi males nyertika nih, kamu harus cepet-cepet lipet jemuran yang baru kamu angkat. Setelah kamu lipet, langsung masukin lemari, dan jangan lupa kasih pewangi. 

"Nih Rafael, ada banyak hal yang harus kamu lakuin disela-sela kamu nganggur. Kehidupan kamu enggak dimulai saat kamu ngedapetin pekerjaan kok, tapi kehidupan kamu dimulai hari ini, besok, dan seterusnya. Kehidupan kamu dimulai setiap pagi saat kamu bangun tidur. Ah, lagian juga kamu gak nganggur-nganggur banget. Kamu kerja sambilan kan bantu ngelola akun sosmed Keripik Enak punyanya si David. Nih pokoknya, kamu harus tau kalau kamu itu masih punya kehidupan. Ada banyak hal yang bisa kamu kerjain, Rafael. Dan yang paling penting, kamu harus percaya sama diri kamu sendiri. Dengan kamu ngelakuin itu aja aku udah bangga sama kamu.”

Ya. Kalau boleh jujur, aku juga muak dengan self esteem-ku yang rendah.    

“Ohya, kamu nggak lupa kan nanti malem? Itu … ortu-ku kan ngajak kita dinner. Kayaknya ada hal penting yang pengen mereka sampein ke kita deh.”

Aku membenarkan posisi kacamata. Lalu menjawab, “Iyah, aku enggak lupa dengan acara nanti malam.”

“Okey, kita ketemuan langsung di resto Mora, ya.” Lisa menyeruput es americano-nya. Lalu, tak lama setelah itu mata Lisa menatap serius ke arahku. “Rafael, bener ya jangan sampe lupa jam delapan malem. Kamu tau kan orangtua aku suka sama orang yang menghargai waktu. Sebaliknya, di mata mamih ama papih, orang yang gak menghargai waktu bener-bener nggak punya kesempatan apa-apa. Kamu ngerti maksudku, kan?”

Pulang dari kafe aku terlalu lelah untuk menata desk  yang berantakan. Terlalu malas untuk melipat pakaian yang baru saja aku angkat. Tubuhku berat dan sangat lelah. Rasanya ingin tumbang ke kasur mengistirahatkan tubuh. Meski begitu, aku paksakan untuk memasang alarm. Aku menyetelnya di jam 19.00 —tepat tiga puluh menit sebelum menuju Mora.

***

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Pandanganku masih buram. Hal pertama yang mengganggu mataku adalah meja dengan tumpukan buku dan HVS-nya yang berantakan.

Aku meghela napas.

Dengan perlahan aku mengambil posisi duduk. Pandanganku menyapu seisi kamar. Kamar berukuran 3x3 ini nampak sederhana dan tak ada yang spesial. Langit-langit kamar yang berwarna putih itu nampak pucat. Pun ditambah dinding kamar dengan cat putihnya; suasa lengang di atas sana.

Namun berkat jam dinding, setidaknya ada satu bentuk nada yang berterbangan mengisi langit-langit kamar. Nada itu berbunyi: Tak … tak … tak. Jarum panjang di jam berlarian dengan lincah. Jarum itu menunjuk angka sepuluh. Oh, kali ini menunjuk angka sebelas. Jarum merah itu begitu lincah. Berbeda dengan jarum pendek yang nampak malas. Dari tadi ia hanya menunjuk ke angka lima. Dan kali ini pun masih di angka lima.

Jika sekarang jam lima sore, maka aku hanya tidur setengah jam. Betul kah? Entahlah. Padahal rasanya aku tidur sangat lama sampai-sampai khawatir melewatkan alarm yang kupasang. Nyatanya, mengapa aku hanya tidur sebentar?

Tapi yang aneh, aku sama sekali tidak ngantuk. Malahan tubuhku terasa nyaman. Anehnya lagi setelah sekian purnama tak aku rasakan semangat –seolah semangat adalah minyak dan aku airnya– tapi kali ini semangat menghampiriku dan membuat aku berapi-api. Merasa bahwa semua kegagalanku di masa lalu bisa diperbaiki. Merasa, apapun masalahnya bisa aku hadapi.

Desk di hadapanku itu dari awal sudah mencuri perhatian. Ya, aku akan membereskan meja! Oh, momen yang sangat langka memang.

Tegap aku melangkah. Kedua tanganku mengepal. Gigi gerahamku bagian atas bertemu dengan gigi geraham bagian bawah, membuat rahangku menjulur tegas.

Aku mengambil satu buku di atas meja. Niatnya buku itu mau aku simpan di box, biar nanti saja aku keluarkan jika ingin membaca –namun pandanganku tak bisa lepas dari cover buku itu. Buku yang berjudul ‘101 Job Interview Questions You’ll Never Fear Again’ karya James Reed mengingatkanku kepada aku yang dulu: Si lugu yang berambisi. Masa dimana aku baru lulus dari studi-ku; dan langsung mengirim cv ke tiga perusahaan. Satu perusahaan menolakku, sedangkan dua lainnya tertarik memanggilku. Aku lolos di tahap screening. Aku juga lolos tahap psikotes. Namun, saat masuk ke ruang interview mendadak aku seperti kekurangan trombosit. Kakiku lemas. Belum lagi AC di ruangan seperti tak berfungsi. Entah AC itu betulan rusak atau sengaja diatur agar keringatku keluar berdesakkan lewat pori-pori. Saat itu rasanya ingin cepat meninggalkan ruangan. Kacamataku juga seperti tak henti-hentinya melorot sehingga sepanjang interview yang aku lakukan adalah membenarkan posisi kacamata.

Itu semualah yang membuat aku melangkah ke toko buku. Membeli beberapa buku bertemakan interview; salah satunya buku James Reed. Tapi jujur saja, aku tak menuntaskan buku itu. Aku keburu menyerah sebab di sela-sela membaca aku mengalami banyak penolakan. Dan ditolak di banyak perusahaan membuat aku tak tau antara berusaha dan terlalu ngotot, apa bedanya?

Aku tersenyum. Dengan hati-hati aku menyimpan buku-buku itu di box. Kini giliran HVS lah yang mencuri perhatianku. 

Di salah satu HVS, di sana tertulis ‘Sasaran pasar Keripik Enak’ lengkap dengan coretan-coretan yang menandakan kalau waktu itu aku sempat salah dalam menuliskan sesuatu. Di beberapa kertas lainnya pun tertera hal yang masih bersangkutan dengan produk tersebut. Laba-rugi Keripik Enak; target omset Keripik Enak di bulan Agustus; rencana varian rasa Keripik Enak; resep rahasia Keripik Enak.

Ini sebetulnya agak rahasia, tapi … ya, sebelum David menjadi owner, akulah pemiliknya. Lalu mengapa sekarang itu semua bisa terjadi? Ya lagi-lagi tentang aku yang terlalu mudah menyerah. Aku terlalu tak percaya diri terhadap produkku. Aku mengira orang-orang tidak menyukai produkku. Kerabat-kerabatku serta teman-temanku, aku kira mereka hanya akan membelinya satu kali saja dan setelah itu mereka tak mau membeli lagi. Dugaan bahwa produkku yang tak akan laku itu terlahir atas self esteem-ku yang rendah, dan didukung oleh lelahnya proses produksi. Dari mengambil singkong di kebun, mencucinya, memarut singkong, menggoreng, memberikan bumbu pada singkong, mengemas singkong-singkong yang sudah siap makan ke dalam plastik. Ya, semua itu melelahkan sehingga aku memutuskan untuk berhenti. David sebagai teman dekatku terus menyemangatiku. Tapi aku bilang pada David kalau aku sudah bulat akan mencari pekerjaan saja, dan jika David mau coba produksi dengan tak ada ragu sama sekali aku mempersilahkannya. Dan waktu itu berakhir dengan penanda tanganan kontrak di kertas HVS.

Aku menghela napas.

Sepertinya sudah cukup bagiku untuk mengenang masa-masa itu. Sekarang aku harus merapihkan semua lembaran HVS ini dan menyimpannya ke dalam box bersama tumpukan buku yang tadi aku rapihkan. 

Entah mengapa. Tapi setelah membereskan desk, aku tertarik untuk merapihkan semuanya. 

Aku lanjut membenahi kasur, menata bantal, melipat selimut. Setelah itu aku pergi ke kamar mandi; mengambil kanebo; membasahinya dengan air; lalu me-lap kaca. Aku lanjut menyapu lantai. Setelah itu mengepel. Melipat baju, dan tak lupa menyemprotkan pewangi sebelum dimasukan ke dalam lemari. 

Setelah semua pekerjaanku beres, aku melentangkan tubuh di kasur; dan tertidur karena terlalu lelah. 

***

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Pandanganku masih buram. Hal pertama yang mengganggu mataku adalah meja dengan tumpukkan buku dan HVS-nya yang berserakan.

Aku meghela napas.

Suasana ini tak pernah absen ketika aku bangun tidur. Sumpek; akibat kamar yang berantakan. Seluruh otot tubuhku rasa-rasanya seperti hilang entah kemana. Tumpukan buku serta HVS yang berserakan di atas meja membuat aku makin-makin tak memiliki gairah hidup.

Detakkan detik pada jam dinding tiba-tiba membuat aku teringat sesuatu. Aku baru sadar, jika langit sudah gelap itu artinya .... Ya, alarm yang aku pasang!

Saat aku menyalakan handphone, aku dikejutkan oleh tiga belas panggilan tak terjawab dari Lisa. Bibirku bergetar saat aku melirik untuk tau jam berapa sekarang. Jam 20.58

Aku hanya diam. Sekelebat ingatan bersama Lisa sore tadi di kafe menyapaku. Perkataan Lisa terus berputar-putar di kepala.

"... kamu tau kan orangtua aku suka sama orang yang menghargai waktu. Sebaliknya, di mata mamih ama papih, orang yang gak menghargai waktu bener-bener nggak punya kesempatan apa-apa. Kamu ngerti maksudku, kan?"

Kini kepalaku dihinggapi berbondong-bondong pertanyaan. Mengapa aku malah tidur setelah pulang dari kafe? Mengapa tak aku paksakan saja membereskan desk setelah menyetel alarm? 

Ohya, tadi dalam mimpi aku adalah orang yang memiliki semangat yang berapi-api; seolah apapun rintangannya bisa aku hadapi. Apa mimpiku tadi dapat diartikan tentang aku yang sangat ingin memiliki semangat seperti itu sampai-sampai masuk ke dalam mimpi? Ya, mungkin saja. Tapi memang kuakui aku memiliki keinginan yang besar. Tapi tetap saja, aku memiliki ketakutan yang lebih besar. Apa arti keinginanku bagi ketakutanku? Tetap saja bukan, aku adalah pecundang yang lari dari mimpinya sendiri.

Satu lagi, hal lain yang ada pada diriku adalah aku yang terlalu lelah untuk terus gagal.

Comments

Popular posts from this blog

CERPEN - HUJAN DAN ANYELIR PUTIH (Karya Yogua Ziafa)

CERPEN - Lagu Klasik (Karya Yogua Ziafa)