CERPEN - CAN I FIX IT (Karya Yogua Ziafa)
Can I Fix it
Seperti halnya orang-orang, aku pun berjalan. Berjalan di atas trotoar sambil mendengar musik kota Jakarta sore.
Sore adalah saat dimana matahari sebentar lagi akan menutup mata. Ancang-ancang bagi langit untuk mematikan lampu. Saat dimana suhu udara mulai dingin, dan lampu apartemen satu persatu mulai menyala. Tapi tetap saja, Jakarta adalah Jakarta. Tak mengenal pagi, siang, sore ataupun malam; selalu ada saja manusia-manusia yang sibuk. Dan sekarang waktu bagi pekerja nine to five sibuk berkendara. Ada juga yang masih menunggu di halte. Mungkin di belahan sana ada yang tak kebagian kursi MRT dan rela berdiri lama demi menuju tempat bernama ‘rumah’.
Sedangkan aku harus pergi ke sebuah tempat untuk pemeriksaan kesehatan rutin. Rela menunda untuk tidak ke ‘rumah’ dulu, meski tubuh ini sudah rindu dengan kasur di kamar.
“Wah, asam uratnya mendekati tujuh ini, lebih tinggi yah dari pemeriksaan sebelumnya.”
Wanita dengan jas putih itu memiliki kulit putih yang terlihat segar. Sesama wanita aku merasa minder. Lihat kulitku yang kering. Wajah kusam akibat keringat yang bercampur dengan partikel-partikel hitam dari knalpot yang berseliweran.
“Makanannya harus dijaga ya. Biasanya malam suka ngemil apa?”
“Em, karena di kantor lagi sibuk-sibuknya, akhir-akhir ini aku suka gadang. Dan kalo gadang enaknya minum soda sih.”
Jujur, aku makin malu dan merasa jadi orang terjelek di dunia. Habit-ku buruk. Pola makanku berantakan. Seketika aku khawatir dengan kulitku yang tak ternutrisi. Melihat kulit dokter yang sehat, aku bisa pastikan kalau ia teratur minum air mineral minimal 2,2 liter perharinya. Pastinya juga ia anti dengan gorengan dari berbagai jenis; dari gorengan kering tanpa minyak sampai gorengan yang kebanjiran minyak.
“Minuman bersoda sebaiknya dikurangi ya. Untuk menu sayur, ternyata ada sayur yang berdampak buruk bagi asam urat, yaitu kembang kol, jamur, bayam. Untuk kacang-kacangan juga sebaiknya jangan sering-sering ya. Dan soda diganti dengan jus. Biar kuat gadang, boleh cari jusnya yang asem-asem seperti jus jeruk atau jus strawberry.”
Setelah beres pemeriksaan, aku langsung pulang tanpa berburu jajanan seperti biasa. Dan sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan tubuh yang lelah. Teringat apa yang dikatakan dokter, aku segera mengeluarkan handphone dan langsung belanja strawberry serta makanan lainnya yang direkomendasikan —tinggal tunggu belasan menit, belanjaanku akan meluncur dengan selamat.
Jujur saja, di kota rantauan ini aku tak punya banyak teman. Bahkan teman dekat yang aku percaya untuk mendengarkan keluh-kesahku saja … nope, nothing!
Biasanya yang aku lakukan adalah menelpon temanku yang jauh di sana. Teman yang selalu ampuh meluruhkan rasa lelahku. Kamar yang tadinya sunyi dan berwarna hitam, seketika cerah dan penuh dengan gelak tawa ketika kami memulai obrolan.
“Ya, halo! Baru pulang nih?” sapa suara di seberang sana.
Aku tak langsung menjawab. Selalu ada ide yang berseliweran ketika dengan sahabatku ini.
“Afiqah ….”
Suara di seberang sana cengengesan. Tak lama ia menjawab, “Iyah ….”
“Ada yang baru nih!”
“Apa?”
Seperti penyanyi yang tau di nada apa ia harus mulai bernyanyi dan seperti busur yang tanpa peluit pun ia tau kapan ia harus melesatkan anak panah, kami tertawa. Saat masih kecil temanku ini sempat populer di kampung karena iklan tersebut.
Ya, kami tertawa. Kamarku dipenuhi dengan huruf-huruf yang berterbangan dengan sangat-amat riang. Huruf-huruf itu berbentuk ‘H-A-H-A’. Bisa aku pastikan kamar Afiqah pun dipenuhi dengan huruf-huruf riang itu. Tanpa video call, aku bisa tau kalau wajah temanku yang putih detik ini berubah menjadi warna merah.
Sedikit demi sedikit memudar. Hingga yang terdengar hanya remah-remah tawa. Kini kami mengganti ruang kami menjadi tempat untuk bertukar cerita. Apa yang terjadi hari ini? Seberapa lelah kamu? Jangan khawatir, aku di sini ada untuk mendengarmu. Seperti itu kira-kira rasanya.
“Afiqah, asam urat aku makin tinggi tauk! Yah, i know, makanan aku gak dijaga banget. Terus … gak pernah olahraga. Terakhir olahraga gak tau kapan. Duh, aku kan masih muda yah, tapi kok berasa jompo. Pokoknya aku tuh …. Gak tau deh. Rasanya capek, gituh. Semakin dewasa semakin gak punya harapan; semakin gak punya cita-cita. Cuman ngejalanin apa yang ada di depan mata, segitu juga udah cukup bagi aku. Tapi kalo lagi di kamar, sendirian, gak jarang aku benci sama diri aku. Ngerasa aku gak punya potensi apa-apa. Ngerasa, hadir atau gak hadirnya aku di dunia, gak punya pengaruh apa-apa. Terus tanpa sadar aku suka ngelontarin pertanyaan bodoh, buat apa sih aku lahir ke dunia?
“You know, di sisi lain aku bertolak belakang sama perasaanku yang udah cukup itu. Aku ngerasa apa yang aku lakuin belum cukup buat ngebahagiain bapak sama mamah. Kamu tau … ah, pokoknya aneh lah. Aku ngerasa serba kurang. Aku ngerasa masih banyak harapan yang belum aku wujudin. Masih banyak keinginan-keinginan untuk lebih baik. Tapi di sisi lain, aku ngerasa segini juga udah cukup kok, apa lagi yang mau dicari?
“Menurut kamu aku kenapa, ya?”
Beberapa detik tak ada suara yang terdengar. Afiqah tak langsung menyahut. Hening.
“Oh, itu mah kamu harus nyari cowok kali!”
“Dih, apasi. Lagi serius juga! Gak ada. Gak ada hubungannya sama cowok ini.”
Afiqah meminta maaf.
“Em, agak berat ya permasalahannya. Tapi kalo menurut aku mah ya, sisi yang kedua itu yang bener. Kamu sebenernya mah punya banyak keinginan; punya banyak cita-cita, tapi kamu tolak itu semua dan seolah kamu tuh gak punya keinginan apa-apa. Kamu kayak bilang ke diri kamu ‘jangan neko-neko!’ gitu.” Seperti biasa, Afiqah dengan kepribadiannya, secara menggebu-gebu ia menjelaskan.
“Eh tapi, kamu dulu kan punya cita-cita buat jadi penulis, nah, coba aja lagi. Barangkali kan hidup kamu jadi bergairah lagi; punya cita-cita lagi.”
“Ih apa sih Afiqah, udah lama juga. Gak mungkin-gak mungkin, ah!”
“Eh … kenapa gak mungkin? Siapa tau kan. Nulis aja dulu. Nih lagian itu cita-cita kamu dari SMP. Dan waktu kuliah pun kamu pernah dipuji kan sama Pak Herdi. Keren tau. Pak Herdi dong! Punya portal berita online; jadi editor juga di portalnya; pernah nerbitin buku lagi. Duh, orang sekelas Pak Herdi kalo muji pastinya gak ke sembarang orang. Itu artinya Pak Herdi percaya sama kamu!”
Aku merasa Afiqah terlalu heboh. Yang aku maksud bukan begitu. Melainkan .... Sebentar-sebentar! Kalau ditarik kesimpulannya maksud Afiqah adalah penyebab aku tidak bergairah itu karena ada cita-cita yang belum aku selesaikan? Cih! Bukankah semua orang bisa dengan mudah memilih cita-citanya dimanapun dan kapanpun itu. Cita-cita dan mimpi itu bisa dong dimiliki oleh siapapun; dari kalangan manapun. Dan bukankah sudah menjadi sesuatu yang wajar juga kalau cita-cita itu tidak menjadi kenyataan?
“Oh … kalo gitu kamu nganggep cita-cita dan mimpi itu mainan?”
“Eh bukan gitu. Apa hubungannya hidup bergairah sama mimpi dan cita-cita coba? Sekarang kebutuhan aku terpenuhi. Aku bisa ngasih ke ortu juga. Gak ada susah-susahnya!”
“Kamu bahagia enggak?”
Seketika aku merasa mati saraf. Mataku seperti lupa bagaimana cara untuk berkedip. Aku menatap langit-langit kamar namun pandanganku kabur, dan pikiranku berkelana jauh sejauh-jauhnya. Bibirku kelu. Hatiku tak karuan. Aku tidak tau harus menjawab apa.
Mendadak nada suara Afiqah menjadi serius. “Dari kecil kita barengan, sampai kuliah pun kita satu kampus. Aku tau kamu banget, sumpah! Dan aku gak pernah ngeliat kamu sebahagia itu. Aku masih inget begitu menggebu-gebunya kamu waktu nyeritain novel yang lagi kamu garap. Kamu rela gadang cuman buat nulis di blog; walaupun siangnya kamu udah aktivitas seharian. Tapi kamu seneng-seneng aja tuh meski ngorbanin waktu tidur. Jadi kejawab yah, mimpi itu ada hubungannya sama hidup bergairah.
“Nih dengerin aku ya, aku mah gak nyuruh kamu resign dari perusahaan kamu sekarang. Aku cuman nyuruh kamu buat nulis lagi. Aku seharusnya gak ngomong ini, tapi aku terpaska bilang kalau mungkin kamu punya luka yang belum kering. Kejadian waktu itu, waktu dua naskah novel kamu ditolak. Gak ada penerbit yang ngerespon naskah kamu dan itu ngebuat kamu drop sedrop-dropnya, kamu masih inget kan? Kamu cuman ngeringkuk di kasur dan enggak ngelakuin apa-apa saking ngerasa hancur. Maaf, aku ngingetin kamu sama kejadian pahit itu. Aku cuman khawatir kamu gak sadar kalau bukan aku yang ngingetin.
“Yang kamu lakuin tuh cuman nutup luka pakai kapas tanpa kamu bersihin luka kamu terlebih dahulu; dan kamu pun gak pakai betadine buat ngeringin luka kamu. Aku ngeliatnya kamu kayak pengecut yang lari dari mimpi sendiri. Kamu tutup mimpi kamu itu rapat-rapat dan berharap semuanya berakhir gitu aja. Kamu tutup luka kamu dan beranggapan kalau luka kamu itu bakal sembuh oleh waktu.”
Bibirku tak melengkung ke bawah layaknya orang sedih. Mataku juga hanya menatap dingin langit-langit kamar. Tapi kenapa tanpa aku mau satu tetesan bening menetes, dan itu secara tiba-tiba; tanpa aba-aba. Lalu menetes lagi. Mengalir —dan mengalir secara perlahan. Hingga kurasakan tetesan itu di telinga. Dingin.
“Terus aku harus gimana?”
“Bahagiain diri kamu dengan nulis. Dikit-dikit aja. Tulis apa yang pengen kamu tulis. Dengan kamu ngelakuin itu, artinya kamu lagi ngebersihin luka kamu.”
Aku menarik napas. “Tapi aku kan gak bisa nulis. Tulisan aku jelek sampai-sampai hampir semua penerbit gak mau nerbitin naskah aku.”
“Eh, kamu mah suka gitu! Biar aku kasih tau sebuah rahasia ya.” Aku membuka telinga lebar-lebar. “Jadi, selama kamu ngirim-ngirimin naskah ke penerbit, ada makhluk yang nguntitin kamu. Makhluk itu tuh terkenal sebagai makhluk yang jail. Nah, dan ajaibnya makhluk itu punya ramuan yang bikin naskah print-outan kamu mengecil. Jadi selama ini tuh, pihak penerbit bukannya gak suka sama naskah kamu, ya … naskah kamu nya kecil, mau keliatan gimana coba. Kalau naskah kamu gak dikecilin sama makhluk jail itu, ada kemungkinan naskah kamu dicetak.”
Wajahku memelas. Aku menyesal telah membuka telingaku lebar-lebar.
Hening sesaat, tetapi tak lama aku teringat sesuatu. Aku ingin bermain-main dalam kebohongan yang Afiqah buat. Lihat bagaimana nanti cara ia menjelaskan ini.
“Eh, tapi kan aku ada juga ngirim naskah lewat surel.”
“Em, itu …” parau suara di seberang sana. “Nah, jadi ramuannya tuh ada dua. Ramuan buat ngecilin, sama ramuan buat ngilangin. Jadi si makhluk itu tuh ngilangin pesan kamu di komputernya penerbit. Di email kamu nya mah ada apa yang kamu kirim teh, nah tapi … di email penerbitnya gak ada. Itu uniknya ramuan kedua yang makhluk itu bikin.”
Pemikiran absurd macam apa itu, hah? Tapi tak apa, aku hargai itu karena sahabatku sudah berusaha menghibur. Tak apa. Aku sudah biasa mendengar pemikiran-pemikiran absurd darinya.
“Yah, pembahasan kita enggak selamanya serius, tapi apa yang kita obrolin pun gak semuanya candaan. Soal aku yang minta kamu nulis, itu bener loh. Aku serius. Mulai sedikit-sedikit aja. Mulai lagi di blog. Kalau gak salah sekarang banyak loh platform yang ngasih wadah ke penulis. Semua bisa nulis di situ. Dan kalau suatu saat nanti semisalnya kamu mau nyeriusin karya kamu, jangan takut. Buat ramuan-ramuan bikinan makhluk jail itu habis. Buat makhluk itu capek ngejailin kamu! Oke?”
Aku menghela napas. “Apa aku bisa ngelakuin itu? Dan ... can i fix it?”
“Hey … ayolah. Tentu aja kamu bisa!”
“Tapi, kayaknya aku gak bisa deh.”
“Hey, jangan gitu ah. Kamu masih inget kan gimana Pak Herdi suka banget sama tulisan kamu. Gimana beliau pengen kamu nerbitin novel. Kamu juga pernah cerita soal orangtua kamu yang bilang ke temen-temennya dan minta temen-temennya itu baca tulisan kamu. Cerpen kamu; puisi kamu. Kamu juga gak ngelupain aku kan? Kamu taulah waktu itu aku gimana aja. Pokoknya, intinya, kita percaya sama kamu."
Terdengar di seberang sana hembusan lega milik Afiqah. Tanpa aku vidio call, bisa kutebak kali ini bibir Afiqah menyungging lembut.
"Kedengerannya kamu pengen banget aku nulis? Udah berapa lama kamu mendem ini? Udah lima taun loh aku berhenti nulis."
Yang Afiqah katakan malah tidak menjawab pertanyaanku. "Pokoknya sebagai sahabat, aku seneng kalo kamu seneng. Dan aku tau apa yang kamu seneng. Terkadang juga aku lebih tau dari kamu soal apa yang kamu inginin di saat kamu lagi dibutakan oleh awan-awan hitam. Aku yakin, kamu masih suka nulis. Kamu harus tau itu. Dan, kamu juga harus tau kalau kamu bisa memperbaiki itu semua, dengan catatan, kalau kamunya ada niat buat memperbaiki itu. Kamu bisa ngelakuin itu semua kalau kamunya percaya kamu bisa."
Lalu di akhir, perkataan Afiqah yang lagi-lagi membuat seolah saraf-sarafku berhenti bekerja. Afiqah bilang, "Kalau kamu masih gak PD, coba inget-inget lagi deh perkataan Pak Herdi sama kamu. Inget-inget juga gimana air wajah orangtua kamu yang bangga waktu mereka ngasih tau ke temen-temennya soal tulisan kamu. Ya ... masa di saat mereka semua percaya sama kamu, kamu gak percaya sama diri kamu sendiri?"
Aku meneguk ludah. Bersamaan dengan mataku yang lupa caranya untuk berkedip, di sisi lain jantungku aktif berdegup. Aku bisa rasakan detakkan dengan urat-urat yang bersemangat itu. Sampai-sampai telingaku bisa mendengarnya.
Pintu kamarku di ketuk. Aku tau, itu kurir yang mengantar belanjaan. Tapi ketukan itu terdengar olehku sebagai ketukan dari alam raya nurani yang menyuruhku untuk tidak melupakan mimpi-mimpiku.
Entah, tapi yang bisa aku lakukan saat ini hanya tanya: Can i fix it?
Maasya Alloh. . Good job mba Zian.. Suka sama critanya🤩
ReplyDeleteYaampun, makasih banyak 🥺❤️
DeleteMantap,,,, dialognya mengalir,, ga berasa saat baca
ReplyDelete👍👍👍👍
Wahh, terimakasih banyak 🥺✨
DeleteKeren... Mengalir...
ReplyDeleteYaampun kakak kuhh. Tencuu🥺❤️
DeleteKeren ♥️
ReplyDeleteMaacih beiip yaampun🥺❤️
DeleteAlhamdulillah nambah terus karyanya, mantap zeyy semangat nulisnya 💪
ReplyDeleteSiap. Terimakasih 🥺❤️
Delete