CERPEN - SEBUAH KISAH (Karya Yogua Ziafa)
(Sumber Gambar: https://www.google.com/url?)
Sebuah Kisah
“Oke Google, penyebab seorang istri berselingkuh.”
Sudah kesekian kalinya aku bertanya kepada Asisten Google,
sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Google. Belakangan banyak dari
teman-temanku yang menggunakannya.
Biar sudah berkepala tiga, tapi kami tidak boleh ketinggalan
akan fitur yang dapat menunjang pekerjaan menjadi lebih mudah. Sebagai seorang
istri dengan tiga orang anak, saat alarm pagi berbunyi, setelahnya aku bisa
tahu tentang cuaca hari ini. Dan jika Asisten Google mengatakan hari ini langit
sedang buruk, setidaknya aku bisa menyiapkan payung untuk ketiga anakku. Fitur
lain yang paling aku suka, yaitu aku yang tidak perlu repot-repot melihat
agenda yang telah aku catat; Google Asistent akan menyebutkan apa saja
agenda-ku hari ini. Dan dari semua yang telah dilakukannya, sejauh ini aku
selalu puas.
Akan tetapi ada satu yang membuatku kecewa. Kali ini,
mengapa tak satupun artikel yang direkomendasikannya relevan denganku?
Untuk yang kesekian kalinya aku bertanya, “Penyebab seorang
istri berselingkuh.”
“Menurut theasianparent, ada banyak alasan yang
menjadi penyebab istri selingkuh. Biasanya dilatar belakangi oleh sikap suami
yang kurang perhatian, atau egois dan tidak mempedulikan kebutuhan istri.”
Aku menghela napas.
Tidak. Aku tak merasa suamiku tidak perhatian. Ia sangat
perhatian, sampai-sampai aku muak dengan semua perilakunya itu.
***
Sebelum masuk ke dalam, aku melihat jam tangan mungil
berwarna cokelat yang melingkar di pergelangan tanganku; di sana waktu
menunjukkan pukul sembilan malam.
Setelah menarik napas panjang, aku mulai membuka pintu kamar
apartemen lalu masuk ke dalam. Hal pertama yang kulihat adalah lampu ruangan
utama yang sudah mati. Hanya beberapa lampu kuning di plafon yang membuat ruangan
masih saja terasa sepi. Dan hanya ada satu suara yang menyambut kedatanganku,
yaitu suara dari smart door lock —pertanda bahwa pintu sudah
terkunci secara otomatis.
Aku merasa kehidupanku di rumah dan kehidupanku di luar
begitu jomplang.
Sebagai orang yang dipercaya oleh sebuah yayasan yang
bergerak di bidang pendidikan anak, jabatanku mau tidak mau menuntutku agar
cermat dalam memahami sebuah keadaan. Aku juga harus siap akan semua hal. Semisal, dulu pernah ada orangtua siswa
yang mengamuk, katanya ia tidak puas dengan yayasan kami. Pihak pengajar maupun
pihak yang bertugas di bagian penerimaan pengaduan, sudah kewalahan dan mau
tidak mau aku harus terjun menangani keributan tersebut. Dalam keadaan genting,
tentu langkah pertama adalah bagaimana aku yang dituntut untuk cepat memahami,
menafsirkan permasalahan dari kacamata umum sampai aku bisa menemukan apa yang
menjadi pemantiknya. Hal yang tak kalah penting adalah mengkomunikasikan apa yang
sekiranya bisa dijadikan solusi. Dengan kata-kata diplomatis aku juga turut mengutarakan
pendapat, hingga akhirnya permasalahan berakhir pada hitam di atas putih. Dan
ternyata kesepakatan yang kami buat berujung baik. Ada perubahan signifikan
pada si anak, berkat itu, tak tanggung-tanggung orangtua siswa yang sebelumnya
mengamuk —menobatkan guci hias kiriman suaminya yang berprofesi sebagai arsitek
di Italia sebagai hadiah untukku.
Aku tahu bahwa perjalanan hidup tidak selalu mulus.
Pasti ada saja kerikil yang sesekali membuat mataku tak bisa tidur nyenyak
semalaman. Hidup memang tidak mudah, meski begitu aku selalu percaya, pasti
akan ada saja jalan keluarnya. Namun ada satu hal yang masih tak kutemukan sampai
saat ini. Sekeras apapun lobus frontal-ku bekerja, aku masih saja tak
mengerti tentang rumah. Ya, di latai apartemen ini, aku merasa seakan gelar
S2-ku tidak ada artinya.
Apa semua ibu memang begitu, selalu merasa kurang jika di depan
anak-anaknya? Terkadang ada sikap si sulung yang tak aku mengerti. Terkadang
aku kehilangan kemampuanku untuk memahami sehingga aku tak tahu apa yang
menjadi pemantik anakku berbuat demikian. Tak jarang aku merasa gagal karena
apa yang aku ajarkan kepada anak-anak di yayasan, tidak aku ajarkan kepada
anakku hanya karena aku yang terlalu melibatkan perasaan. Entah terlalu sayang
atau bagaimana, yang jelas aku tidak tega melihat anak-anakku capek dan
kesusahan jika terus-terusan rutin mengikuti aturan yang aku buat. Mungkin jika teman-temanku tahu
soal itu, mereka tak mengerti, bagaimana bisa aku yang setegas itu berbuat
demikian.
Aku melangkah menuju kamar anak-anak. Di beberapa
waktu tertentu; terkadang aku pulang malam. Sekarang pun yayasan
tempatku bekerja kembali terpilih untuk melakukan akreditasi, dan aku pun
terlibat dalam mempersiapkan administrasi. Sudah menjadi kebiasaan jika pulang selarut ini aku akan berkunjung terlebih dahulu ke kamar anak-anak.
Sambil memegang kenop pintu, aku menghela napas.
Melihat wajah anakku yang sedang tidur dengan lelap,
entah mengapa seperti ada setruman sengit di dada. Seperti halnya gigitan semut, singkat, namun ada titik klimaks dimana
aku harus menggertakkan gigi demi menahan sakit yang menjalar sampai ubun-ubun.
Membuat mataku memanas. Tanpa sadar, mataku basah dengan lacrima-nya.
Pikiranku melambung tinggi; menjauh dari kamar ini. Mengambang-ngambang di dalam kekhawatiranku. Bagaimana jika besar nanti anak-anak tak mengingat hari bahagianya denganku?
Hal yang paling aku takutkan adalah di saat aku menyadari bahwa ternyata mereka sudah tumbuh dewasa, dan aku takut jika di hari itu aku ingin
mengulang waktu ke tempat mereka masih balita. Ingin mengulang waktu,
seperti halnya yang dilakukan oleh pecundang.
Aku menarik napas panjang. Mataku menyapu kamar; mengamati
dinding kamar yang ramai dengan tempelan-tempelan kartun bermuka riang. Tanpa
sadar, dua sudut bibirku tertarik lembut ke atas. Jika terus di sini aku bisa
tak tidur semalaman. Jadi dengan sangat hati-hati aku menutup pintu, lalu
berjalan menuju kamarku.
Untuk yang kesekian kalinya aku menghela napas.
Saat aku melepas jas dan menggantungnya, secara tiba-tiba
saja terpikir begitu hebatnya aku. Aku memiliki banyak jas di
lemari, sedangkan suamiku, entahlah. Aku tak tahu. Aku tak mengerti bagaimana
harus menjelaskan ini semua.
Terkadang aku benci kepada suamiku yang tak memiliki satupun
jas di lemarinya. Terkadang aku muak kepada suamiku yang hanya di rumah,
mengantar anak-anak sekolah; menjemputnya. Aku kesal kepadanya. Entah mengapa,
dadaku seperti tengah mengangkat beban yang beratnya sampai berton-ton. Namun
di sisi lain, tanpa harus berpikir dulu, aku membangga-banggakan suamiku. Entah ke tetangga
kamar, ataupun ke teman-temanku di yayasan. Aku menyuarakan tentang kesetaraan
gender. Aku bilang kepada mereka, pikiran mereka kolot jika masih menganggap
kalau tugas pria hanya mencari nafkah sedangkan wanita hanya mengurus rumah.
Ya, aku berkata begitu dengan penuh percaya diri. Seakan aku bukan orang yang
memiliki pikiran kolot itu. Seakan hidupku enteng tanpa beban. Seakan, hidupku
benar-benar baik-baik saja.
Aku menyimpan luka itu sendiri. Mencoba menguburnya dalam-dalam. Tapi aku sadar bahwa lukaku adalah perjalanan panjang yang
tidak bisa dilupakan hanya dalam waktu satu-dua hari. Luka itu akan kembali
menyapaku ketika aku membuka mata dan memulai hari. Aku harus mempersiapkan
diri dan memperlihatkan ke semua orang bahwa aku baik-baik saja; padahal, aku
lelah dengan semua itu. Dan di saat aku terlalu lelah, aku menemukan pundak
yang terlihat tegap. Pundak yang tidak akan roboh jika aku menyandarkan
kepalaku di sana. Pundak milik seorang pria yang bukan suamiku. Pundak milik
seorang pria, bernama Andara. Nama yang unik, memang.
Mungkin, sebagian ada yang langsung teringat sebuah tempat
ketika mendengar nama itu. Awalnya aku juga begitu. Tapi seiring berjalannya
waktu aku menemukan Andara lain di dalam dirinya.
Ia merupakan sosok dengan tubuh kekar. Kulitnya yang cokelat
memberi kesan bahwa ia merupakan pria yang kuat. Dari nada bicaranya, aku bisa
tahu kalau ia merupakan sosok yang penuh kharisma.
Awal mula kami saling kenal, itu karena kami yang ditautkan
oleh sebuah acara. Ya, peranku sebagai aktivis pendidikan serta dia yang seorang
pegiat sosial sangat dibutuhkan agar acara berlangsung dengan semestinya.
Pertemuan pertama kami sebetulnya bukan di situ. Sebelumnya, di beberapa kegiatan, kami pernah bertemu. Aku hanya sebatas tahu bahwa pria itu bernama Andara. Tidak pernah ada percakapan. Meski begitu, sedikitnya aku tahu tentang Andara —itu karena di saat rekan-rekanku sedang membicarakan sebuah kegiatan, setidaknya ada nama Andara di sana. Selain dari teman, aku bisa tahu sedikit lebih banyak dari postingannya di facebook. Bisa tahu dia sedang dimana; sedang ada kegiatan apa. Dan sepertinya, dia pun sedikitnya tahu juga informasi tentangku. Aku sedang dimana, dan sedang melakukan kegiatan apa. Sebab kali pertama memulai percakapan pun, dia bilang, “Postingan ibu mengenai ‘stunting yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif dan prestasi anak’, saya sependapat.”
Aku sering membagikan artikel atau apapun yang sekiranya perlu
diketahui oleh khalayak. Dia juga begitu. Dan aku sering menyimak; membaca apa
yang dia bagikan. Dari apa yang dia posting aku bisa melihat bahwa dia orang
yang cukup vokal terhadap isu sosial.
“Hei, sayang. Udah pulang?”
Lamunanku tentang apa yang terjadi empat bulan lalu,
seketika buyar.
Sebelum menoleh, aku menarik napas panjang. Seharusnya,
aku yang bertanya begitu. Seharusnya aku berada di posisi suamiku yang
terbangun dari tidur lelapnya. Seharusnya suamiku-lah yang baru pulang dari
kantor oleh sebab lembur atau apapun itu.
Parau aku menjawab, “Iya, sudah sayang.” Lalu aku tersenyum
lembut kepadanya.
“Ohya …” katanya, dengan nada antusias. Kelihatan kalau suamiku tengah teringat akan suatu
hal penting, “… aku kan janji mau henna-in kuku kamu.”
Sekeras apapun ia mencoba, rasanya dadaku malah seperti
disengat oleh aliran listrik berfrekuensi 60 Hz. Meninggalkan bekas luka di
sana. Aku merasa kalau suamiku tengah menyia-nyiakan waktunya hanya untuk
membuatku bahagia. Terkadang apa yang dilakukannya hanya memicu air mata.
Karena faktanya, aku tak bahagia atas usaha yang ia lakukan. Sekeras apapun dia
berusaha, aku merasa, hasilnya akan sama saja. Dia hanyalah orang bodoh yang
terlalu keras dalam berusaha.
“Sayang …. Aku mandi dulu ya.” Tanpa menunggu jawaban
darinya, dengan langkah lebar aku langsung pergi ke kamar mandi. Shower
aku nyalakan seketika menginjak ubin tegel. Di bawah gemuruh air ini, aku
terisak.
Hal semacam ini yang membuat aku akhirnya memutuskan untuk
bersandar di pundak tegap itu.
Empat bulan lalu, tepat ketika acara yang melibatkan aku dan
Andara usai terselenggara, normalnya, secara otomatis komunikasi akan
terminimalisir. Seperti halnya komunikasiku dengan MC yang lambat laun kami tak
lagi saling kirim-kiriman pesan. Sebab, apa yang akan kita bahas? Tak ada.
Acaranya sudah beres.
Lain halnya aku dan Andara, selalu ada saja topik yang dibahas.
Dimulai dari isu pendidikan, lalu lanjut ke isu sosial. Kami juga sempat beradu
argumen dengan berbagai tema. Saat menjalin obrolan dengannya, aku merasa gelar
S2-ku tidak sia-sia. Andara adalah teman diskusi yang menyenangkan. Dia juga
bisa menjawab semua hal yang aku tanyakan. Di situ aku menyadari, betapa dia
adalah pria yang aku idam-idamkan.
Aku seperti tengah kembali ke masa-masa remaja. Mengenal
lagi istilah pendekatan. Mengenal lagi istilah semalaman tidak bisa tidur
karena mikirin dia. Ya, entah. Kalau dipikir-pikir memang aneh, tapi, itu memang
terjadi.
Seiring berjalannya waktu, kami saling terbuka dengan perasaan satu sama lain. Aku tahu bahwa dia suka padaku; begitupun sebaliknya —Andara tahu bahwa aku suka kepadanya.
Yang biasanya aku memulai pagi dengan rutinitas yang biasa
saja —maksudnya aku melakukannya hanya karena sebuah kewajiban.
Ketika aku mengenal Andara, pagiku berubah. Aku merasa bersemangat. Seakan
bunga di vas tengah tersenyum kepadaku. Seolah burung di luar yang bertandang di kabel-kabel, tengah
menyanyikan lagu untukku. Seakan matahari yang terbit, memang hadir untuk
menyapaku. Seindah itu.
Seperti halnya anak remaja yang kasmaran, ketika malam tiba, rindu kepada Andara kian memuncak. Hormon dopamin yang mengalir di otak seketika aktif ketika Andara menyapaku lewat pesan. Mataku kuat jika semalaman harus disembur oleh cahaya biru dari handphone. Rasa ingin memegang erat tangannya; rasa ingin memeluknya, itu menjadi pengganti khawatirku terhadap anak-anak. Tak lagi aku merasa sedih. Tak lagi aku memikirkan tentang bagaimana jika besar nanti anak-anak tak ingat hari bahagianya denganku. Tak lagi aku merasa capek atas banyak hal. Mengenal Andara adalah waktu dimana aku menyadari bahwa aku tidak boleh lupa untuk bahagia.
Aku merasa aku tengah dihidupkan kembali. Menjadi orang yang baru; menjadi lebih segar. Mataku terlihat satu senti lebih lebar dari biasanya; menunjukkan kalau aku tengah bersemangat.
Dan ada satu masa, dimana aku merasa di pukul sampai jatuh ke lapisan dasar bumi. Masa dimana aku melihat postingan Andara dengan istrinya. Memang, pose mereka biasa saja. Tidak ada unsur mesra. Namun berada di satu frame foto dengan istri dan keempat anaknya, ditambah bibir yang kompak merekah, semua itu cukup bagiku untuk menyadari bahwa Andara bukan milikku. Lantas, perlukah aku melanjutkan bahagiaku padahal semua itu hanyalah fatamorgana? Perlukah aku bahagia dengan Andara di sebuah tempat bernama antah berantah? Bukankah bahagiaku dengannya hanyalah sebuah angan belaka?
Aku diam. Dan hanya diam. Tak membalas pesan darinya. Benar-benar hanya diam. Aku kehilangan cahaya sampai berwatt-watt. Hari-hariku nampak redup. Berangkat ke kantor hanya membawa badan. Mengerjakan pekerjaan hanya sebatas menggerakkan tangan. Entah dimana gerangan alam pikirku berada. Otakku seperti halnya mesin yang kekurangan oli, yang diam tak melakukan apapun. Aku menjadi orang yang tak berprinsip; tak juga memiliki tujuan. Aku seperti tengah sendirian di sebuah lorong sepi kehidupan.
Teman-teman kantorku menyadari, katanya aku seperti bukan aku. Yang biasanya pekerjaanku rapi; yang biasanya aku selalu tepat waktu ke kantor; yang biasaya aku menjadi tempat untuk menyalurkan energi, seketika semua itu tak ada pada diriku. Aku asing di tempat yang asing.
Hingga pada sore hari seusai pulang bekerja, ketika melihat kantung mata milik suamiku serta kulit wajah suamiku yang mulai agak turun, entah mengapa dadaku terasa seperti disengat pelan oleh aliran listrik. Tak tahu mengapa, tapi di situ aku menangis. Lambat laun semakin histeris. Aku baru sadar selama beberapa hari kemarin; setelah melihat postingan Andara, ternyata aku terluka. Di sore itu, aku menumpah ruahkan semuanya. Mengungkapkan hal-hal yang tak pernah aku ungkapkan kepada suamiku, sore itu, aku mengungkapkan akan semua yang telah aku kubur selama berwindu-windu. Tentang aku yang ingin suamiku pintar. Tetang aku yang ingin suamiku lah yang memimpin rumah tangga. Aku ingin memiliki suami yang menawan dengan ketegasannya. Aku menginginkan semua itu. Bukan suami yang di rumah; bersih-bersih, menata barang, mengantar jemput anak-anak. Sore itu, aku mengungkapkan hal-hal jahat dari mulutku.
Namun ketika aku mereda, sambil mengusap air mata di pipiku suamiku bilang, "Kalau kamu minta aku buat jadi orang yang lebih pintar dari kamu, maaf,
mungkin aku nggak bisa. Tapi kalau kamu minta ditemenin di saat kamu sedih, di saat kamu pusing sama anak-anak, aku selalu siap. Dan satu janji aku yang perlu kamu ingat, aku akan berusaha
agar kamu menjadi istri yang bahagia."
Aku mematikan shower. Beberapa menit kemudian aku sudah duduk di atas kursi, berhadap-hadapan dengan suamiku yang tengah fokus memoleskan henna di kuku-ku.
Dua hari yang lalu, aku memutuskan untuk kembali menjalani hari seperti biasanya. Memilih untuk tidak lama-lama berbaring di lapisan terdalam bumi. Aku memilih untuk bangkit. Memilih untuk kembali menjadi orang yang selalu tepat waktu; kembali menjadi orang yang rapih dalam bekerja.
Sebab, bukankah cinta memang selalu sama saja. Selalu terasa manis, seolah aku tak pernah merasakan manis yang semanis itu. Dan juga, selalu terasa pahit, seolah tak ada pahit yang bisa menandingi pahitnya itu.
Entah Andara atau suamiku yang kini bertandang di hati, tapi, bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk memposisikan tanggung jawab di atas cinta? Dan, jika masih tak kutemukan Andara sebagai pria yang tepat untuk dicinta, aku harus bagaimana agar suamiku lah yang menjadi satu-satunya pria yang patut aku cintai?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oke, guys! Ceritanya udah selesai. Gimana nih gimana hhe
Btw guys cerita ini terinspirasi dari kisah nyata, jadi, cerita ini cukup spesial 💖
Oh ya, terlepas dari siapapun di luar sana yang melakukan perselingkuhan, ya ... aku menganggap bahwa perselingkuhan itu bukan perbuatan yang oke. Ya, anggaplah ini hanya cuitan bocah yang enggak tau dunia pernikahan karena memang belom nikah juga hhe.
Kemarin aku nonton drakor, dan kayaknya quots-nya bakal oke deh kalo di taro di akhir tulisan ini.
Kutipan dari drakor yang berjudul Juvanile Justice:
"Dalam hidup, koma lebih penting daripada titik. Maka, kau tak perlu khawatir. Siapapun dapat melakukan kesalahan. Tetapi, bukan berarti kesalahan itu adalah kegagalan. Kau bisa memulai lembar baru kapan saja."
Yeeee,, keren uy, tema nya berat, sensitif tp kok bisa ringan ya saat dibaca,,
ReplyDeleteTerus berkarya ziafa, ,, insya Alloh kalau senantiasa diasah pisau pun kan semakin tajam
Terimakasih banyak atas dukungannya😃✨
DeleteMba zia,, good job... Smg menjadi inspirasi trbaru buat anggota sgm juga💞
ReplyDeleteAmiin ... Semoga❤️
DeleteSatu kata
ReplyDeleteKEREN🔥🔥
Ceritanya inspiratif dan kata²nya itu lohhh bikin kita terbawa & merasakan apa yg diceritakan,,pesan ceritanya jga ngena & oke bangett
Lanjutkan zeyyyy,,mangatss🔥
Makasih banyak aca🥺❤️
Delete👍👍👍
ReplyDeleteTerimakasih banyak 🙏
Delete