CERPEN - KISAH ANA (Karya Yogua Ziafa)
Halo temen-temen semuanya. Udah lama aku gak upload. This is my first cerpen after not uploading for a long time, jadi ya ... semoga temen-temen semua enjoy dengan cerpen aku inih.
Tulisan ini aku buat tahun 2020, yang tentunya sekarang udah melewati tahap revisi.
Cerpen ini bertemakan bullying. Miris banget rasanya, bullying seperti ga ada redupnya. Jaman ke jamannya ada aja kasus bullying.
Aku gak tau gimana caranya buat meminimalisir jumlah perundungan di Indonesia, but, dengan tulisan ini aku cuman pengen bilang ke korban, sedikit kata-kata dari drakor 'Healer':
"Semua orang mengalami saat-saat menyedihkan, tapi semuanya akan berlalu. Jika kamu bisa bertahan sedikit lagi, semuanya akan berlalu. Percayalah, ini sungguh akan berlalu!"
------------------------------------------------
Jepang, 2015
Fun Wa
Kainushi Ga Shimatsusuru1
Untuk yang kesekian kalinya, Ana menemukan papan dengan
tulisan itu. Tulisan yang tertempel di pagaran besi –tak jauh dari taman– yang
membuat seantero dunia tak ayal lagi dengan kebersihan Negara Jepang.
“Gimana? Oke, kan?” pertanyaan ayah Ana disertai raut bangga impulsif.
Sang anak hanya
mengangguk; menyetujui pendapat ayahnya (yang sudah berpuluh-puluh tahun kerja
di Jepang) tentang orang Jepang yang cenderung tak peduli dengan orang lain. Terbukti
memang, tak satu pun orang Jepang yang mempermasalahkan heels milik Ana yang
dicopot salah satu hak-nya.
“Jadi, gimana? SMA mau sekolah di sini?” pertanyaan ayahnya
kali ini membuat Ana diam seribu bahasa. Pikiran bawah sadarnya mengingatkannya
akan tanggal 1 September2 yang
ia temukan di internet hasil dari kata kunci pencariannya: Kasus Bullying Jepang. Seketika itu pula pikiran Ana membayangkan
dirinya yang tewas di Aokigahara3.
Meski Ana sangat ingin mengakhiri hidupnya cepat-cepat, tapi otak warasnya ketimbang besar peran dari nafsu sialan miliknya. Jadi, dari hasil olah otaknya seminggu lalu, ayahnya mungkin tak tau akan niat Ana ke Jepang yang sekedar me-refresh pikiran. Kehadiran Ana di Jepang sudah dipastikan bukan untuk survei sekolah atau apapun itu seperti halnya yang ada di benak ayahnya sekarang. Sebab Ana yakin, ia mampu bertahan. Ia yakin tak akan kena bully di SMA. Di pikirannya, pasti SMA berbeda dengan SMP.
Ayahnya mengangguk bangga. Wajah bingungnya kini berubah menjadi sorot
binar kepada anak semata wayangnya. Padahal sangat disayangkan, ia sebagai ayah
tak tau bahwa sang anak dengan segudang sedunya tengah menjahit luka basah; yang entah kapan menjadi kering dan tak
lagi menjadi luka.
Sebagai
hiburan, kali ini Ana menghirup udara dalam-dalam sambil menutup kedua matanya,
cukup lama. Dan ketika kedua mata itu terbuka, tak sengaja ia melihat ke arah
remaja yang berada jauh di seberang sana. Remaja itu tengah memasukan kotoran Anjing
Pudel ke kantong plastik yang dibawanya dari rumah. Ia terlihat santai
memunguti kotoran dari hewan peliharaannya, yang ‘kebelet’ di
aktivitas jalan-jalan sore mereka.
Ana tersenyum.
Meski
banyak orang Jepang yang memiliki hewan peliharaan, nyaris tak ada kotoran
hewan yang berceceran di jalan, di taman, atau bahkan di lahan kosong
sekalipun. Mereka benar- benar peduli akan hal sekecil itu. Tak salah, peran
papan dengan tulisan “Kotoran Harap Dibersihkan Pemiliknya” benar-benar
berlaku.
***
Indonesia, 2020
“Heboh! Jimin AOA
Ternyata Tukang Bully”
“Jimin AOA Sebut Tak
Ingat Pernah Bully Mina”
“Mencengangkan!
Video Lawas Perilaku Buruk Shin Jimin Kepada Kwon Mina"
Ana mematikan layar handphone, dan lanjut mengompres dahinya yang masih biru. Semua artikel tadi membuat ia menghela napas. Dan berujung kesal kala memoar hitam itu kembali menghidupkan kinerja hippocampus-nya.
Tanpa sadar Ana mengeluh, jika dulu ia mengambil tawaran ayahnya untuk tinggal di Jepang, maka tak akan ada Ana yang ditindas.
Lagi-lagi, tanpa sadar Ana membatin, mengapa dirinya begitu dibenci?
Apa itu karena ukuran kakinya yang tak
simentris, mengakibatkan dirinya terlihat terpincang-pincang jika sedang
berjalan? Ah, jika itu alasannya, Ana juga tak menghendaki kekurangan itu ada
padanya. Siapa orang yang menginginkan lahir dengan kondisi, seperti itu?
Ana tak mengerti, mengapa manusia begitu sangat mudah
melihat kekurangan manusia lainnya? Meskipun orang itu pintar, tidak
merepotkan, tapi jika ada kekurangan satu saja, rasa-rasanya kekurangan yang
satu itu adalah kesalahan yang sangat besar, sampai-sampai kelebihan lain yang dimiliki oleh orang itu lenyap tak berarti.
Semua usaha Ana seolah jadi sia-sia. Hangus terbakar oleh
kekurangan yang dimilikinya.
Tatapan tajam mereka, dorongan tangan
mereka, seringai puas mereka kala Ana jatuh tersungkur. Bagi Ana, perilaku
mereka lebih jelek dari hewan manapun. Demikian juga ejekan nyaring mereka;
suara mereka lebih jelek dari suara keledai.
Ana sudah mencoba mengadu, tapi, mendadak
sikap mereka jika ada guru berubah menjadi sangat manis. Mereka mendadak
menjadi tupai yang menggerak-gerakkan ekornya agar terlihat sebagai tupai yang
manis.
Ana terlalu heran. Tak bisakah mereka belajar dari
sejarah seseorang? Ataukah harus ada pelajaran khusus di sekolah yang membahas
tentang bullying, agar mereka mengerti?
Kasus bullying di Thamrin City, bullying di SMPN 18
Tangerang Selatan yang sempat gempar pada tahun 2016 lalu, juga bullying di
Universitas Gunadarma pada tahun 2017 yang tak kalah gemparnya. Kasus-kasus
tersebut sudah banyak tangan yang menuliskannya, sudah banyak juga diputar di
layar kaca, jadi, tak bisakah mereka menjadikan semua kasus itu sebagai
pelajaran?
Ah, jika dengan sejarah saja mereka masih tak mempan, apa
Ana hanya perlu menunggu dikeroyok seperti Audrey lalu dengan itu orang-orang
akan memberikan hastag #JusticeForAna ?
Asal mereka tau, bagi Ana kasus perundungan adalah kaset usang yang serak kala diputar. Permasalahan yang sebetulnya hanya ego perut belaka. Karena, bukan hanya orang cacat seperti Ana saja yang kena bully. Orang secantik Jade Stringer dan orang semenawan Mina eks AOA, pun masih sempat kena bully. Terpaksa, pada ujungnya bullying menjadi permasalahan yang ambigu bagi Ana.
Lucu ya! Bullying bisa
mengubah seseorang menjadi kotoran. Entah ada shinobi apa di bumiku ini.
***
Catatan Kaki
1
Papan pengingat bagi mereka yang memiliki hewan peliharaan. Papan ini banyak
ditemukan di jalan, di taman, bahkan di lahan kosong sekalipun.
2 Tanggal favorit bunuh diri di Jepang. Terutama bagi
pelajar.
3 Hutan yang dikenal sebagai tempat bunuh diri.

Comments
Post a Comment